Bencana alam selalu menjadi bagian kehidupan di Indonesia. Mulai dari letusan gunung berapi hingga gempa bumi, negara ini tidak asing dengan kekuatan alam yang merusak. Dalam beberapa tahun terakhir, kota Manado di Sulawesi Utara sangat terpukul oleh serangkaian bencana alam, sehingga banyak warga yang berjuang untuk membangun kembali kehidupan mereka setelah bencana tersebut.
Jumlah korban jiwa akibat bencana di Manado sangat besar, dan kisah-kisah baik yang selamat maupun yang hilang muncul dari reruntuhan. Salah satu kisah tersebut adalah kisah Maria, ibu dari tiga anak yang kehilangan suaminya akibat gempa bumi dahsyat yang melanda kota tersebut pada tahun 2018. Maria dan anak-anaknya kehilangan tempat tinggal dan tanpa sarana penunjang apa pun, karena rumah mereka hancur total akibat gempa tersebut.
“Saya tidak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi pada kami,” kata Maria dengan air mata berlinang. “Suami saya adalah pencari nafkah keluarga, dan sekarang dia telah tiada, saya tidak tahu bagaimana kami dapat bertahan hidup.”
Terlepas dari tantangan yang dia hadapi, Maria bertekad untuk membangun kembali kehidupannya dan menafkahi anak-anaknya. Dengan bantuan LSM lokal dan bantuan pemerintah, dia mampu mendapatkan tempat tinggal sementara dan akses terhadap kebutuhan dasar. Namun perjalanan ke depan masih panjang dan tidak pasti, saat ia bergulat dengan kerugian emosional dan finansial yang dialaminya.
Korban selamat lain dari bencana alam di Manado adalah Ahmad, 19 tahun, yang nyaris lolos dari tanah longsor yang mengubur desanya dalam lumpur dan puing-puing. Ahmad kehilangan beberapa anggota keluarganya dalam bencana tersebut, termasuk orang tua dan adik perempuannya. Yang tersisa hanyalah pakaian di punggungnya dan rasa duka serta trauma yang mendalam.
“Saya masih bermimpi buruk tentang malam itu,” kata Ahmad, suaranya bergetar. “Saya tidak bisa menghilangkan rasa bersalah karena menjadi satu-satunya yang selamat. Saya sangat merindukan keluarga saya, dan saya tidak tahu bagaimana cara move on dari tragedi ini.”
Ahmad saat ini menerima konseling dan dukungan dari para profesional kesehatan mental, yang membantunya mengatasi kehilangan dan membangun kembali hidupnya. Dia bertekad untuk menghormati kenangan orang-orang yang dicintainya dengan berupaya menuju masa depan yang lebih baik bagi dirinya dan komunitasnya.
Kisah Maria dan Ahmad hanyalah sedikit contoh korban jiwa dalam bencana alam di Manado. Tak terhitung banyaknya warga yang terkena dampak bencana ini, kehilangan rumah, mata pencaharian, dan orang-orang yang mereka cintai dalam sekejap mata. Jalan menuju pemulihan akan panjang dan sulit, namun semangat ketahanan masyarakat Manado tetap terpancar dalam menghadapi kesulitan.
Ketika kota ini terus melakukan pembangunan kembali dan pemulihan dari kehancuran akibat bencana alam, sangatlah penting bagi kita untuk bersatu sebagai sebuah komunitas untuk mendukung mereka yang membutuhkan dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal. Dengan berbagi kisah mengenai kelangsungan hidup dan kehilangan ini, kita dapat meningkatkan kesadaran akan dampak bencana alam terhadap manusia dan menginspirasi orang lain untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
